PENDIDIKAN ISLAM

  1. A.     PENDAHULUAN

Pendidikan adalah usaha sadar yang terus menerus untuk mewujudkan manusia yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan luhur sikap moralnya. Bahkan dalam lagu kebangsaan kita ada bait lagu yang berbunyi ”bangunlah jiwanya…. Bangunlah badannya”. Inilah spirit bagi pendidik untuk membangun manusia yang sehat lahir dan batin. Aktor utamanya tentu umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Pembenaran alas an diatas ialah:

1)      Islam menempatkan ilmu pengetahuan sebagai instrument untuk meraih keunggulan hidup. Gambaran ini amat jelas jikalau kita merujuk Sabda Nabi Muhammad SAW:

”Barang siapa yang ingin unggul di dunia harus dengan ilmu , barang siapa yang ingin unggul di akhirat harus dengan ilmu, dan barang siapa ingin unggul pada kedua-duanya juga harus dengan ilmu.”

2)      Dalam perkembangan sejarah, Islam telah cukup memberikan acuan dan dorongan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Allah berfirman dalam QS Al Alaq ayat 1 – 5.

  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
  3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah,
  4. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam,
  5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Inilah yang menjadi dasar bagi manusia untuk senantiasa ”membaca” tanda – tanda kebesaran Allah lewat teks Al Qur’an, maupun penciptaan jagad raya.

 

  1. B.     PENDIDIKAN ISLAM DAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Sebagian besar orang memiliki persepsi yang salah mengenai pendidikan Islam dan pendidikan agama Islam. Pendidikan Islam ialah segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumberdaya insani yang ada padanya, menuju terbentuknya manusia yang seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam.

Sedangkan pendidikan agama Islam ialah upaya pendidikan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai – nilainya, agar menjadi jiwa, motivasi, bahkan dapat dikatakan way of life seseorang. Prinsip dalam pendidikan Islam ialah:

  1. Merupakan gabungan dari Tarbiyah (pemeliharaan), Ta’lim (pengajaran), Ta’dib (pembinaan budi pekerti). Hubungan ketiganya adalah pendidikan Islam, baik formal maupun nonformal.
  2. Pendidikan ditujukan kearah tercapainya keserasian dan keseimbangan.
  3. Inti pendidikan Islam adalah motivasi keimanan dalam pribadi muslim secara utuh untuk menjadi insane kamil.
  4. Al Qur’an dan As Sunnah merupakan sumber nilai pendidikan Islam untuk merealisasikan fungsi muslim sebagai khalifatullah fil ardhi.
  1. C.     FUNGSI PENDIDIKAN ISLAM

Fungsi pendidikan Islam secara mikro adalah memeliharadan mengembang fitrah dan sumber daya insane yang ada pada subyek didik menuju manusia seutuhnya (insane kamil) sesuai dengan norma Islam. Sedangkan fungi pendidikan Islam secara makro ialah menumbuhkan wawasan yang tepat mengenai manusia dan lingkungannya , sehingga akan tumbuh kreativitas yang dapat membangun dirinya dan lingkungannya. Secara garis besar fungsi pendidikan Islam adalah:

  1. Mengembangkan wawasan subyek didik mengenai dirinya dan alam sekitarnya, sehingga akan tumbuh kreativitas
  2. Melestarikan nilai – nilai insane yang akan menuntun jalan kehidupannya sehingga keberadaannya lebih bermakna
  3. Membuka pintu ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang sangat bermanfaat bagi peradaban  manusia.

 

  1. D.     TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM

Teknologi modern telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua, lintas negara, menerobos berbagai pelosok perkampungan di pedesaan dan menyelusup di gang-gang sempit di perkotaan, melalui media audio (radio) dan audio visual (televisi, internet, dan lain-lain). Fenomena modern yang terjadi di awal milenium ketiga ini popular dengan sebutan globalisasi.

Sebagai akibatnya, media ini, khususnya televisi, dapat dijadikan alat yang sangat ampuh di tangan sekelompok orang atau golongan untuk menanamkan atau, sebaliknya, merusak nilai-nilai moral, untuk mempengaruhi atau mengontrol pola fikir seseorang oleh mereka yang mempunyai kekuasaan terhadap media tersebut. Persoalan sebenarnya terletak pada mereka yang menguasai komunikasi global tersebut memiliki perbedaan perspektif yang ekstrim dengan Islam dalam memberikan criteria nilai-nilai moral; antara nilai baik dan buruk, antara kebenaran sejati dan yang artifisial.Di sisi lain era kontemporer identik dengan era sains dan teknologi, yang pengembangannya tidak terlepas dari studi kritis dan riset yang tidak kenal henti. Dengan semangat yang tak pernah padam ini para saintis telah memberikan kontribusi yang besar kepada keseejahteraan umat manusia di samping kepada sains itu sendiri. Hal ini sesuai dengan identifikasi para saintis sebagai pecinta kebenaran dan pencarian untuk kebaikan seluruh umat manusia.

Tetapi perlu dicatat bahwa sejak munculnyaera televisi dibarengi dengan timbulnya berpuluh-puluh channel dengan menawarkan berbagai acara-acara yang menarik dan bervariasi, umat Islam hanya berperan sebagai konsumen, orang Barat-lah (baca, non-Muslim) yang memegang kendali semua teknologi modern tak terkecuali televisi. Dari sini beberapa permasalahan, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan Islam, mencuat ke permukaan. Pertama, apa langkah yang harus ditempuh oleh setiap Muslim, orang tua dan para pendidik, dalam upaya mengantisipasi dan merespon sejak dini gejala-gejala distorsi moral yang adiakibatkan oleh media televisi, internet dan media-media audio visual lainnya?

Ahmed (1990) mendefinisikan pendidikan sebagai “suatu usaha yang dilakukan individu-individu dan masyarakat untuk mentransmisikan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan dan bentuk-bentuk ideal kehidupan mereka kepada generasi muda untuk membantu mereka dalam meneruskan aktifitas kehidupan secara efektif dan berhasil.”
Khan (1986) mendefinisikan maksud dan tujuan pendidikan Islam sebagai berikut:

  1. Memberikan pengajaran Al-Qur’an sebagai langkah pertama pendidikan.
  2. Menanamkan pengertian-pengertian berdasarkan pada ajaran-ajaran fundamental Islam yang terwujud dalam Al-Qur’an dan Sunnah dan bahwa ajaran-ajaran ini bersifat abadi.
  3. Memberikan pengertian-pengertian dalam bentuk pengetahuan dan skill dengan pemahaman yang jelas bahwa hal-hal tersebut dapat berubah sesuai dengan perubahan-perubahan dalam masyarakat.
  4. Menanamkan pemahaman bahwa ilmu pengetahuan tanpa basis Iman dan Islam adalah pendidikan yang tidak utuh dan pincang.
  5. Menciptakan generasi muda yang memiliki kekuatan baik dalam keimanan maupun dalam ilmu pengetahuan.
  6. Mengembangkan manusia Islami yang berku
  7. alitas tinggi yang diakui secara universal.

Keterlibatan orang tua diperlukan pada fase-fase ketika anak mulai memasuki usia sekolah, baik SD, SMP, maupun SMU. Menjelang masas pubertas yakni pada usia antara dua belas sampai delapan belas tahun anak menjalani episode yang sangat kritis di mana sukses atau gagalnya karir masa depan anak sangat tergantung pada periode ini. Robert Havinghurst, pakar psikolog Amerika, menyebutkan periode ini sebagai “developmental task” atau proses perkembangn anak menuju usia dewasa.

Oleh karena itu adalah tugas orang tua, khususnya dan utamnya, untuk mengatur strategi yangtepat dalam rangka membantu proses pembentukan pribadi anak khususnya dalam periode awal perkembangan anak. Dalam hal ini orang tua haruslah memiliki wawasan pengetahuan yang luas serta dasar pengetahuan agama yang mencukupi untuk menghindari kesalahan strategi dalam mendidik anak.

 

  1. E.     PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM

Pendidikan Islam di Indonesia masih menghadapi berbagai masalah dalam berbagai aspek. Upaya perbaikannya belum dilakukan secara mendasar, sehingga terkesan seadanya saja. Selama ini upaya pembaharuan pendidikan Islam secara mendasar, selalu dihambat oleh berbagai masalah mulai dari persoalan dana sampai tenaga ahli. Padahal pendidikan Islam dewasa ini, dari segi apa saja terlihat goyah terutama karena orientasi yang semakin tidak jelas [Muslih Usa, 1991:11-13]. Berdasarkan uraian ini, ada dua alasan pokok mengapa konsep pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia untuk menuju masyarakat madani sangat mendesak. [a] konsep dan praktek pendidikan Islam dirasakan terlalu sempit, artinya terlalu menekankan pada kepentingan akhirat, sedangkan ajaran Islam menekankan pada keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat. Maka perlu pemikiran kembali konsep pendidikan Islam yang betul-betul didasarkan pada asumsi dasar tentang manusia yang akan diproses menuju masyarakat madani. [b] lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dimiliki sekarang ini, belum atau kurang mampu memenuhi kebutuhan umat Islam dalam menghadapi tantangan dunia modern dan tantangan masyarakat dan bangsa Indonesia disegala bidang. Maka, untuk menghadapi dan menuju masyarakat madani diperlukan konsep pendidikan Islam serta peran sertanya secara mendasar dalam memberdayakan umat Islam,

Suatu usaha pembaharuan pendidikan hanya bisa terarah dengan mantap apabila didasarkan pada konsep dasar filsafat dan teori pendidikan yang mantap. Filsafat pendidikan yang mantap hanya dapat dikembangkan di atas dasar asumsi-asumsi dasar yang kokoh dan jelas tentang manusia [hakekat] kejadiannya, potensi-potensi bawaannya, tujuan hidup dan misinya di dunia ini baik sebagi individu maupun sebagai anggota masyarakat, hubungan dengan lingkungan dan alam semesta dan akhiratnya hubungan dengan Maha Pencipta. Teori pendidikan yang mantap hanya dapat dikembangkan atas dasar pertemuan antara penerapan atau pendekatan filsafat dan pendekatan emperis [Anwar Jasin, 1985:8], Sehubungan dengan itu, konsep dasar pembaharuan pendidikan Islam adalah perumusan konsep filsafat dan teoritis pendidikan yang didasarkan pada asumsi-asumsi dasar tentang manusia dan hubungannya dengan lingkungan dan menurut ajaran Islam.

Apabila kita ingin mengadakan perubahan pendidikan Islam maka langkah awal yang harus dilakukan adalah merumuskan konsep dasar filosofis pendidikan yang sesuai dengan ajaran Islam, mengembangkan secara empris prinsip-prinsip yang mendasari keterlaksanaannya dalam konteks lingkungan [sosial – cultural] yang dalam hal ini adalah masyarakat madani.

  1. F.      MANAJEMEN IQ, EQ, SQ UNTUK MENINGKATKAN SDM

Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfikir dan belajar secara terus menerus. Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak kekayaan. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang banyak. Tetapi kekayaan ini tidak membuat Indonesia sejahtera dan terlepas dari berbagai krisis . Hal ini membuktikan bahma SDM yang banyak dan SDA yang banyak tidak cukup untuk membawa sebuah bangsa untuk maju tetapi juga diperlukan SDM yang berkualitas. Lalu bagimana SDM yang berkualitas itu? Apakah ditentukan oleh IQ yang tinggi? Memang salah satunya ditentukan oleh IQ SDM itu sendiri. Tetapi IQ saja tidak cukup , ada kecerdasan lain yang sangat mendukung yaitu kecerdasan emosional (IQ) dan kecerdasam spiritual (SQ). SDM yang berkualitas secara IQ saja tidak cukup, karena IQ yang tinggi bisa saja maenjadi orang yang malah mempergunakan kepintarannya itu untuk kepentingan diri sendiri dengan mengabaikan kepentingan orang lain, maka disinilah perlu adanya kecerdasan emosi (IQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).

Untuk membangun sebuah bangsa yang maju sangat diperlukan SDM yang berkualitas secara IQ, EQ, dan SQ. Mengapa kecerdasan itu diperlukan? Mengapa tidak hanya IQ?saja? Hal ini disebabkan karena IQ yang tinggi saja tidak cukup, orang yang mempun yai IQ tinggi tetapi tidak didukung dengan kecerdasan emosional maka tidak akna menghasilkan SDM yang berkualitas unggul. Sedangkan SDM yang unggul sangat diperlukan Indonesia untuk membangun bangsa ini sehingga dapat membawa Indonesia keluar dari krisis ekonomi dan hutang luar negeri yang sedang melilit bangsa ini. Untuk bangkit dari krisis, kita bisa belajar dari kehancuran Jepang pasca perang dunia II. Hanya 10 tahun setelah pemboman Hirosima dan Nagasaki, Jepang bisa bangkit kembali menjadi bangsa yang maju. Robert N. Bellah yang meneliti kebangkitan Negara Matahari Terbit itu mengatakan bahwa bangsa Jepang bangkit karena telah menerapkan nilai-nilai Bushido yang ada dalam spirit Tokugawa. Tokugawa terkandung unsur-unsur etika seperti kejujuran, kedisplinan, bekerja keras, menjunjung tinggi kinerja, menghargai waktu, dan menghargai nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa IQ saja tidak cukup untuk membangun suatu bangsa untuk menjadi lebih maju tettapi diperlukan juga EQ dan SQ. Kecerdasan intelektual yang tidak diiringi dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual tampaknya hanya akan menghasilkan kerusakan dan kehancuran bagi kehidupan dirinya maaupun umat manusia. Seperti oarang yang melakukamn korupsi, orang yang melakukan korupsi mungakin saja mempunyai IQ yang tinggi tetapi karena mempunyai EQ dan SQ yang rensdah maka ia menyalahgunakan kecerdasan intelektual untuk kepentingan dirinya sendiri denang mengabaikan kepentingan orang banyak.

IQ dan EQ saja pun tidak cukup, tetapi perlu dilengkapi dengan kesadaran akan nilai-nilai yang hakiki yaitu SQ. Krisis moneter, bencana alam yang terjadi dalm lima tahun terakhir ini, termasuk tsunami yang melanda Aceh dan Sumatra Utara maupun di negara lainnya, membawa manusia kepada suatu kenyataan bahwa walaupun dengan kemajuan teknologi yang maha canggih dan berkembangnya peradapan sebagai manusia modern yang telah menikmati berbagai kemudahan, serba ada dan instan namun di sisi lain ada yang hilang dalam diri manusia. Manusia angkuh, merasa percaya diri bisa melakukan apa yang diinginkan nya, namun saat alam dengan kehendak-Nya menyajikan bencana, betapa kita tak berdaya. Terasa kekeringan secara spiritual telah membuat diri manusia lupa pada suatu hal dimana sebagai manusia sesungguhnya, kita perlu cerdas secara spiritual. Tiga kecerdasan ini tidak dapat dipisahakan karena orang yang hanya memiliki spiritual (SQ) tinggi, namun rendah dalam nilai-nilai intelek¬tual sehingga akhir¬nya kalah dalam percaturan ekonomi, sosial dan iptek. Pencapaian kualitas manusia ideal yang proporsional adalah manusia unggul yang cerdas secara intelektual, emosi, serta spiritual. Perlu diakui bahwa IQ, EQ dan SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait (interconnected) di dalam diri kita, sehingga tak mungkin juga kita pisah-pisahkan fungsinya. Berhubungan dengan orang lain tetap membutuhkan otak dan keyakinan sama halnya dengan keyakinan yang tetap membutuhkan otak dan perasaan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s