PENGEMBANGAN KREATIVITAS MEMULUSKAN JALAN KARIR

A. Pengertian kreativitas

Pandangan mengenai kreativitas. biasanya, letak suatu perbedaan pandangan itu terletak pada arti kreativitas. berbagai pandangan mengenai kreativitas membuat pengertian kreativitas bergantung pada pada cara orang mendefinisikannya. Dari berbagai pandangan, dalam definisi kreatifitas dibedakan dalam dimensi person, proses, produk, dan press (Rhodes). kreativitas sebagai person, mencerminkan keunikan individu dalam pikiran dan ungkapan. kreativitas sebagai proses, menyibukan diri secara kreatif yang menunjukkan kelancaran, fleksibilitas, dan originalitas dalam berpikir. Kreatifitas sebagai produk, suatu karya yang dapat dikatakan kreatif. kreativitas sebagai press, situasi kehidupan atau lingkungan sosial, kultural, dan kerja yang memberikan kemudahan dan mendorong penampilan pikiran dan tindakan kreatif. Jadi kesimpulannya, kreativitas itu merupakan kemampuan berpikir , bersikap, dan bertindak tentang sesuatu dengan cara yang baru dan tidak biasa guna memecahkan berbagai persoalan, sehingga dapat menghasilkan penyelesaian yang orisinil dan bermanfaat. Lalu keterkaitan antara kreativitas dan intelegensi? Sebenarnya, dari kreativitas dan intelegensi ada perbedaannya. Menurut teori Guilford, intelegensi lebih menyangkut pada cara berpikir convergen yang menuntut sikap konformis. Sedangkan kreativitas berkenaan dengan cara berpikir divergen (memusat). Walaupun ada beberapa perbedaan kreativitas dan intelegensi sama-sama menentukan bakat seseorang.

B. Tahap-Tahap Kreativitas
Secara umum tahapan kreativitas dapat dibagi dalam 4 tahap: Exploring, Inventing, Choosing dan Implementing.
1. Exploring. Pada tahap ini pekerja atau businessman mengidentifikasi hal-hal apa saja yang ingin dilakukan dalam kondisi yang ada saat ini. Sekali mereka mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut maka proses kreativitas sudah dimulai.Hal penting yang harus diperhatikan pada saat ini adalah menciptakan iklim yang menunjang proses berpikir kreatif
2. Inventing. Pada tahap ini, sangat penting bagi perusahaan untuk melihat atau mereview berbagai alat, teknik dan metode yang telah dimiliki yang mungkin dapat membantu dalam menghilangkan cara berpikir yang traditional.
3. Choosing. Pada tahap ini perusahaan mengidentifikasi dan memilih ide-ide yang paling mungkin untuk dilaksanakan.
4. Implementing. Tahap akhir untuk dapat disebut kreatif adalah bagaimana membuat suatu ide dapat diimplementasikan. Seseorang bisa saja memiliki ide cemerlang, tetapi jika ide tersebut tidak dapat diimplementasikan, maka hal itu menjadi sia-sia saja. Sama saja dengan syair lagu “layu sebelum berkembang”.

C. Model Kreativitas
Menurut Charles Prather, dalam bukunya Blueprint for Innovation, gaya atau model kreativitas seseorang bersifat menetap. Prather membagi 2 gaya kreativitas:
1. Adaptive Problem Solving. Orang-orang yang memiliki gaya ini dalam bekerja cenderung menggunakan kreativitas untuk menyempurnakan system dimana mereka bekerja. Hal-hal yang terlihat pada orang yang memiliki gaya ini adalah bahwa mereka akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat system menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih murah dan efisien. Apa yang mereka lakukan akan dapat dilihat hasilnya secara cepat. Oleh karena itu mereka lebih sering mendapat penghargaan.
2. Innovative Problem Solving. Orang-orang yang memiliki gaya ini dalam bekerja cenderung untuk menantang dan mengubah sistem yang sudah ada. Mereka dapat disebut sebagai “agent of change” karena lebih memfokuskan pada penemuan sistem baru daripada menyempurnakan yang sudah ada. Dalam perusahaan mereka dapat dilihat pada bagian-bagian yang melakukan riset, penciptaan produk baru, mengantisipasi kebutuhan pelanggan tanpa diminta, dan orang-orang yang menjaga kelangsungan hidup perusahaan di masa yang akan datang.

D. Hambatan untuk Berpikir Kreatif
Meskipun kreativitas dan inovasi sangat dihargai di banyak perusahaan, namun hal tersebut tidak selalu dikomunikasi kepada para pegawainya. Perusahaan bahkan seringkali tidak memberikan ruang gerak bagi para pekerjanya untuk berkreasi dan berinovasi. Banyak perusahaan di Indonesia merupakan contoh dimana ide-ide kreatif hanya berakhir diruang-ruang rapat semata.
Hambatan lain yang mengganggu kreativitas adalah jika pekerjaan yang kita jalani tidak sesuai dengan minat dan bakat yang kita miliki. Selain itu gaya kreativitas yang dimiliki tidak “match” dengan tuntutan pekerjaan sehari-hari. Contoh: gaya kreativitas Kita adalah sebagai “agent of change” tetapi pekerjaan Kita lebih bersifat rutin, mekanistik dan menuntut kita untuk melakukannya sesuai dengan aturan atau prosedur yang sudah baku.
Hambatan lain datang dari unsur psikologis. Untuk menjadi kreatif seseorang harus berani untuk dinilai aneh oleh orang lain. Lihat saja para penemu dan seniman-seniman besar yang pada saat menciptakan karyanya seringkali dianggap “gila”. karena itu tidak semua pegawai siap untuk berbeda pendapat/ide dengan orang lain meskipun ide tersebut kemudian terbukti benar. Pola pendidikan kita yang kurang mendorong adanya variasi atau perbedaan pendapat juga sangat mendukung kurangnya kreativitas pegawai.

E. Menumbuhkan Kreativitas
Pada dasarnya kreativitas dapat terjadi di semua bentuk organisasi atau perusahaan sejauh organisasi tersebut menghargai atau mendorong individu-individu untuk berkreasi. Jika tidak, maka individu yang kreatif akan menjadi frustrasi dan selanjutnya terjebak dengan rutinitas yang ada.
Berdasarkan hasil penelitian, untuk menciptakan kreativitas dibutuhkan lingkungan kerja kondusif yang menyenangkan (fun), penuh rasa humor, spontan, dan memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan atau percobaan. Membentuk lingkungan yang kondusif seperti itu sangatlah tidak mudah bagi sebuah organisasi. Mendorong kreativitas dalam dunia kerja menuntut iklim yang permissif terhadap existensi individualitas dan penerimaan terhadap rasa humor, disamping tetap memegang teguh rasa hormat, kepercayaan dan komitment sebagai norma yang berlaku.
Salah satu cara terbaik untuk mendorong kreativitas dan inovasi dalam sebuah perusahaan adalah dengan cara mengukur sejauhmana hal tersebut telah dilakukan. Perusahaan dianjurkan untuk memasukkan unsur kreativitas dan inovasi ke dalam proses evaluasi kerja. Sebagai contoh: masukan unsur penilaian tentang berapa banyak ide dari seseorang atau kelompok (teamwork) yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan. Jika hal ini terkomunikasi dengan baik maka setiap individu akan berusaha untuk memberikan ide secara konstruktif.
Penempatan pegawai dengan konsep the right people with the right job juga merupakan cara yang tepat untuk menstimulasi munculnya kreativitas dan inovasi. Hal ini karena penempatan pegawai pada posisi yang tepat akan mengurangi supervisi sehingga memberikan otonomi bagi individu dalam menyelesaikan masalah-masalah pekerjaannya.
Root-Bernstein, salah seorang penulis buku Sparks of Genius, mengusulkan pentingnya pegawai untuk keluar dari cara kerja yang rutin sehingga dapat melihat masalah pekerjaan dengan cara yang baru. Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut menurut Bernstein perlu dilakukan brainstorming secara regular. Dengan melakukan brainstorming pegawai diharapkan dapat memberikan ide dan solusi yang baru.

F. Menumbuhkan Kreativitas di Tempat Kerja
Menurut para ahli, seseorang yang kreatif selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, dan biasanya tidak dilihat oleh orang lain. Orang yang kreatif, pada umumnya mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang menyimpang dari cara-cara tradisional. Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, berguna, dan tidak terduga tetapi dapat diimplementasikan.

G. Mengasah kreativitas dan mengaplikasikan dalam dunia kerja
Dalam mengasah kreativitas diperlukan training atau pelatihan, training itu dibutuhkan dengan alasan-alasan di bawah ini:

1. Menambah pengetahuan atau mengisi pengetahuan baru.
Dunia kerja atau dunia usaha mengalami lompatan perkembangan yang jauh lebih cepat dari lompatan yang terjadi pada dunia akademis. Banyak hal baru yang belum pernah ada bukunya di sekolah, tetapi sudah muncul dalam dunia kerja atau dunia usaha, terutama sekali yang ada hubungannya dengan teknologi atau keahlian-keahlian spesifik. Katanya, kemampuan mengantisipasi trend baru jauh lebih dibutuhkan ketimbang kemampuan akademis dalam dunia usaha.
Di samping itu juga, aplikasi pengetahuan dalam dunia kerja atau dunia usaha membutuhkan semacam gaya, model, atau tehnik yang lebih “adaptatif” terhadap keadaan spesifik atau perkembangan. Ini bisa terjadi dari mulai hal, misalnya: membuat surat atau korespondensi. Tidak sedikit perusahaan besar yang kita jumpai mendatangkan trainer khusus untuk melatih orang-orangnya dalam membuat surat bisnis. Karena alasan beradaptasi dengan trend, maka perusahaan perlu men-training orang-orangnya. Sebab kalau tidak, perusahaan akan ketinggalan kereta perubahan, menjadi terkesan kurang profesional, atau tidak efektif dalam menangani masalah-masalah baru.

2. Memperbaiki sikap mental terhadap kehidupan dalam dunia kerja.
Termasuk dalam pengertian sikap mental ini adalah: cara melihat persoalan, cara menyelesaikan pekerjaan, cara menghadapi orang, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengasah kreativitas di lapangan, dan lain-lain. Dengan membaiknya sikap mental orang-orang yang ada dalam sebuah organisasi kerja, maka ini bisa diharapkan akan dapat memunculkan pola kehidupan kerja yang lebih kondusif terhadap kemajuan usaha. Karena itu, training diperlukan.

3. Mengubah prilaku dan kebiasaan di tempat kerja.
Bagian inilah yang sebetulnya menjadi sasaran dari training apapun. Dengan berubahnya isi pikiran dan membaiknya sikap mental, diharapkan dapat terjadi perubahan prilaku hidup atau kebiasaan kerja yang benar-benar memberi kontribusi pada keuntungan, kelancaran, dan kemajuan organisasi.

H. KESIMPULAN
Kreativitas dalam dunia kerja akan sangat menentukan dalam perkembangan karier seseorang, semakin mudah kita dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaan
Dan tuntutan perkembangan di dalam dunia kerja yang membutuhkan inovasi-inovasi baru.

Kreativitas dalam lingkungan kerja bisa dikembangkan dengan cara ,
1. Ciptakan lingkungan kerja kondusif. Situasi yang menyenangkan, penuh rasa humor, memberi ruang pada diri Kita untuk melakukan berbagai kegiatan. Sekali-kali mendengarkan musik saat membuat laporan bulanan atau bersenandung saat menunggu print dokumen bisa membuat diri Kita sedikit rileks, dengan catatan tidak mengganggu rekan kerja Kita. Menuntut suasana kerja yang permissif terhadap existensi diri disamping tetap memegang teguh komitmen sebagai norma.
2. Ukur kreatifitas yang telah dilakukan. Masukkan kreatifitas sebagai subjek penilaian. Diskusikan dengan tim Kita mengenai hal ini, tujuannya hanya agar bisa memacu semangat berinovasi.
3. The right man in the right place. Sebuah cara yang tepat untuk menstimulasi munculnya kreatifitas dan inovasi. Dengan cara ini bisa meminimalisir supervisi sehingga memberi kebebasan tiap karyawan dalam menyelesaikan masalah-masalah pekerjaannya sendiri dan bertanggung jawab dengan keputusan yang diambil.
4. Spontaneity. Munculkan mood yang bagus dalam diri Kita, jangan batasi kesenangan Kita. Tidak perlu Kita menjadwal kesenangan hanya pada weekend, karena kebahagiaan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Semakin sering Kita merasa bahagia maka semakin mudah bagi Kita untuk merasa bahagia dikemudian hari. Dan Kita tentu saja akan merasa nyaman. Kondisi nyaman sangat dibutuhkan untuk berinovasi.

Referensi

http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/18/apa-kreativitas-itu/
Diakses tanggal 17 April 2012
____.2011.http://id.jobsdb.com/id/EN/Resources/JobSeekerArticle/Tips%20karir?ID=405
Diakses tanggal 17 April 2012
____.2009. http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=219
Diakses tanggal 17 April 2012
zulfikarmmunri .2011. http://zulfikarmmunri.blogspot.com/2008/01/menumbuhkan-kreativitas-di-tempat-kerja.html.
Diakses tanggal 17 April 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s